BERANI BERKARYA

WELCOME TO MY BLOG

Kamis, 05 Januari 2017

TATA TERTIB PENYAMPAIAN VISI DAN MISI CALON KEPALA DESA JENGGIK UTARA PERIODE 2017-2022

TATA TERTIB PENYAMPAIAN VISI DAN MISI
CALON KEPALA DESA JENGGIK UTARA
PERIODE 2017-2022

  1. Setiap peserta yang boleh memasuki ruangan acara harus bisa menunjukan surat undangan.  
  2. Peserta tidak boleh membuat keributan selama acara berlangsung.
  3. Apabila terdapat peserta yang membuat keributan pada saat acara berlangsung sehingga mengganggu keberlangsungan acara tersebut, maka panitia berhak memberikan teguran/ mengeluarkan peserta teserbut. 
  4. Visi dan Misi disampaikan oleh calon kepala desa secara berurutan dengan durasi yang sudah ditentukan yaitu maksimal 10 menit untuk setiap calon. 
  5. Penggalian/ pendalaman visi dan misi oleh para panelis dengan alokasi waktu untuk setiap calon maksimal 20 menit.  
  6. Jika memungkinkan dengan alokasi waktu yang sudah ditentukan, maka panitia akan memberikan kesempatan kepada perwakilan dari peserta untuk bertanya (pendalaman visi dan misi) kepada masing-masing calon maksimal maksimal 4 penanya. 
  7. Peserta/calon harus mentaati tata tertib yang sudah ditetapkan oleh panitia



Jenggik Utara, 6 Desember 2016




Panitia

 

Selasa, 03 Januari 2017

KISAH PENUH HIKMAH_IBUKU BUTA SEBELAH MATA



IBUKU BUTA SEBELAH MATA



Ibuku hanya memiliki satu mata, aku sangat membencinya !! karena dia sungguh membuatku menjadi sangat malu berjalan dengannya. Dia bekerja menjadi pembantu yang memasak buat para murid dan guru di sekolah lain di Medan untuk menopang ekonomi keluarga kami setelah ayah meninggal dunia. Pernah suatu ketika saat aku duduk di Sekolah Dasar dan ibuku dating hendak menjemputku, aku merasa sangat malu bagaimana bias ia tega melakukan ini padaku ? aku membuang muka dan berlari meninggalkannya saat bertemu dengannya. Keesokan harinya aku menjadi bahan ejekan di Sekolah. “Ibumu bermata satu ??!? yeee ejek seorang teman”. Akupun menjadi malu sekali dan berharap agar ibuku mati saja dan segera lenyap dari muka bumi ini. Di rumah aku bertanya kepada ibuku “kenapa tadi engkau menjemputku dan kenapa ibu hanya memiliki satu mata ? aku ini kan malu !!,. kalau engkau hanya ingin aku menjadi bahan ejekan orang-orang, kenapa engkau tidak segera mati saja..!!?? Ibuku tidak marah, ia hanya diam seribu bahasa nyaris tanpa reaksi hanya setitik air mata sempat aku lihat di sudut matanya. Aku merasa tidak enak hati, namun disaat yang sama aku harus mengatakan apa yang ingin aku katakana selama ini, mungkin ini karena ibuku tidak pernah menghukumku sejak kecil. Aku bahkan tidak berpikir kalau aku sangat melukai perasaannya.
Pada suatu malam aku terbangun dan hendak menuju ke dapur hendak mengambil minuman, kulihat ibuku sedang shalat malam sambil menangis terisak-isak, mungkin ibu khawatir tangisanya akan membuatku terbangun, sesaat aku tatap dia dan kemudian aku pergi meninggalkanya, setelah aku melukai perasaanya, aku menjadi merasa tidak enak hati, tapi segera aku lupakan. Walau demikian, aku tetap membenci ibuku yang sedang shalat sambil menangis karena ia buta sebelah. Aku bertekad untuk menjadi dewasa dan menjauh darinya biasa menjadi orang sukses dan segera meninggalkan rumah aku tekun belajar dan mendapatkan beasiswa S1 dan S2 di Australia dan tinggalkan ibuku sendirian, selama aku belajar di Australia tidak pernah sekalipun aku pulang, telpon atau berkirim surat kepada ibuku, aku menganggap ibuku sudah mati. Singkat cerita, setelah kuliah kemudian aku bekerja di Multinasional Company di Jakarta, menikah dan membeli rumah yang elit dengan jerih payahku. Akupun mempunyai anak-anak dan tinggal dengan bahagia sebagai seorang eksekutif muda yang sukses. Aku menyukai hidupku kini karena semua ini membuatku semakin melupakan ibuku.
Sampai suatu ketika, seseorang wanita datang ke rumahku,,Hah…Apa,,?? Siapa ini kok seperti peminta-minta ?! ternyata ia adalah ibuku sudah menua dan yang dating dengan penampilan sederhana dan masih buta sebelah mata. Aku merasa seolah-olah langit runtuh menerpaku, bahkan anak-anak ku lari ketakutan yang melihat ibuku buta sebelah matanya. Aku pura-pura bertanya “Siapa kamu ??! aku tidak mengenalmu !! kukatakan itu seolah-olah itu benar. Aku memakinya, “berani sekali kamu dating ke rumahku dan menakut-nakuti anak-anakku !! KAMU PERGI KELUAR DARI SINI SEKARANG JUGA !!. Ibuku hanya menjawab, “oh maafkan aku tuan, mungkin aku salah alamat”. Kemudian ia berlalu dan hilang menjauh dari pandanganku. Oh syukurlah dia tidak mengenaliku, aku lega dan kukatakan pada diriku aku tidak perlu khawatir, dan aku melupakan kejadian itu.
Suatu hari, sebuah undangan menghadiri Reuni SD-SMA ku di Medan, tempat aku dibesarkan, jadi aku pergi pulang kampong untuk menghadiri acara tersebut, setelah menghadiri reuni sekolah, aku mengunjungi sebuah gubuk tua yang dulu merupakan rumahku, sekedar ingin tahu saja. Disana aku mendapati banyak orang dirumahku dan aku segera masuk, kulihat ibuku baru meninggal dunia dikamarnya yang sempit, dan kulihat dari sudut matanya seperti ada air mata bekas menangis, ia masih memgang selembar surat di tangannya, Sebuah surat untukku.
“Anakku, aku rasa hidupku cukup kini, dan aku merasa akan menemui almarhum ayahmu, tapi apakah terlalu berlebihan bila aku mengharapkan engkau mengunjungiku sekali-kali ?,,aku sangat merindukanmu..aku sangat gembira ketika aku dengar dari orang-orang bahwa engkau dating pada reuni Sekolah, tapi aku memutuskan untuk tidak dating menemuimu ke Sekolah, demi engkau agar tidak malu di hadapan teman-temanmu, akupun menyayangkan aku hanya memiliki satu mata sehingga membuatmu merasa sangat malu punya ibu sepertiku, tapi aku tidak punya pilihan. Ketika engkau masih kecil, enkau mengalami kecelakaan dan kehilangan salah satu matamu, sebagai ibu aku tidak bisa tinggal diam melihat engkau akan tumbuh besar dengan satu mata. Jadi kuberikan salah satu mataku untukmu, aku sangat bangga bisa melihatmu hidup dengan sempurna. Aku merasa cukup bias melihat semua kebahagiaanmu, aku tidak bias membayangkan anaku hidup dengan satu mata, aku tidak pernah marah dengan apa yang pernah engkau lakukan kepadaku, sekalipun engkau sering memarahiku, aku hanya berfikir pada diriku ‘ini karena engkau ingin mencintai ibu yang normal seperti anak-anak lain. Maafkan aku Ibumu ya Nak,,” demikian isi surat ditangan ibuku.
Sahabat, banyak hikmah yang bisa dipetik dari kisah di atas, betapa besar pengorbanan ibunda kita sejak kita masih dalam kandungan,. Memang benar kata pepatah “Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan”
Sahabatku, bagi anda yang ibundanya masih hidup, coba anda renungkan “Sudah berapa lamakah anda tdak menelpon ibu anda ? sudah berapa lamakah anda tidak mengunjunginya dan menghabiskan waktu untuk berbincang dengannya ? sudah berapa lamakah anda tidak membelikannya baju dan makanan kesukaannya ?
Ditengah-tengah aktivitas  anda yang padat ini, boleh jadi anda mempunyai beribu-ribu alasan untuk  meninggalkan ibu yang kesepian di rumah, kadang kala kita memang selalu lupa alkan ibu kita yang mungkin merasa kesepian di rumah.
Sahabatku, bagi anda yang kebetulan ibundanya sudah wafat, coba anda renungkan, “sudah berapa lamakah anda tidak menzirahi makamnya,.? sudah berapa lamakah anda tidak bersedah untuk almarhum ibu anda.,? sudah berapa lamakah anda tidak mengunjungi kerabat dan sahabat ibu anda.,?
Dikala kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi baik ibunda kita, lakukanlah yang terbaik, jangan sampai ada kata “MENYESAL” dikemudian hari. Allah SWT berfirman “jika salah seorang diantara merekat telah berusia lanjut dalam memeliharamu, maka sekali-kali jangan kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, dan janganlah kamu membentak mereka, ucapkan kepada mereka perkataan yang mulia. (Al-Isra : 23). Salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “apakah ukuran durhaka kepada orang tua ?” Rasulullah SAW menjawab “ketika mereka menyuruh, ia tidak mematuhi mereka, ketika mereka meminta, ia tidak memberikan mereka, jika ia memandang mereka ia tidak hormat kepadaa mereka sebagaimana hak yang telah diwajibkan bagi mereka (Mustadrak Al-Wasail 15: 195)”
Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib “wahai Ali, barangsiapa yang membuat sedih kedua orang tuanya, maka ia telah durhaka kepada mereka (Al-Wasail 21:389, Al-Faqih 4:371). Rasulullah SAW bersabda “Dosa besar yang paling besar adalah syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua..(Al-Mustadrak 17: 416)
Dalam hadits Qudsi Allah SWT berfirman “Sesungguhnya yang pertama kali dicatat oleh Allah swt di Lawhil Mahfuzh adalah kalimat : “aku adalah Allah, tiada tuhan kecuali aku, barangsiapa yang diridhoi oleh kedua orang tuanya maka aku meridhoinya, dan barang siapa yang dimurkai oleh keduanya, maka aku murka kepadanya (Jami’us Sa’adat, 2:263)